Al-Qur’an dan Tanggung Jawab Penghafalnya

Santri Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an Anak – anak saat setoran hafalan (doc. betanews.id)

Peristiwa yang telah terjadi, hanya bisa dikenang tanpa bisa diulang. Hari ini bertepatan dengan tanggal 17 Romadhon  kita memperingati peristiwa yang terjadi sekitar 15 abad yang lalu, yakni peristiwa turunnya Al-Qur’an atau Nuzulul Qur’an. Apa perlunya kita memperingati peristiwa turunnya Al-Qur’an? Kita sebagai ummat Rasulullah SAW perlu memperingati turunnya Al-Qur’an ini agar kita semakin faham betapa pentingnya Al-Qur’an, betapa kukuhnya peran Al-Qur’an bagi kita, dan semoga akan menumbuhkan pemahaman kita akan makna yang terkandung dalam  Al-Qur’an, dan yang lebih penting, semoga kita bisa mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya.         

Allah sudah menetapkan dalam  Kitab Suci-Nya, bahwa “Manusia diciptakan dalam keadaan lemah”, manusia ditakdirkan oleh Allah  sebagai makhluk yang pelupa, dan sering melakukan kesalahan. Rasulullah mempelajari Al-Qur’an dalam waktu yang tidak bisa dikatakan singkat. Beliau belajar Al-Qur’an selama 23 tahun dan dalam masa belajar itu, beliau selalu totalitas dalam membaca, memahami makna, mengamalkan isinya, dan mengajarkannya kepada para Sahabat. Jika dipikir lebih dalam, kita sebagai manusia yang secara akal, pemahaman, kecerdasan, akhlak, dan derajat jauh di bawah Rasulullah dan kita dengan berani mempelajari Al-Qur’an, secara otomatis kita tidak boleh sembarangan, harus totalitas ,dan berhati-hati dalam mempelajarinya.

Dalam belajar Al-Qur’an usahakan menjadi orang yang totalitas, jangan sembarangan. Dalam hal membacanya, mulai dari huruf per huruf diperhatikan makhrajnya, sifat-sifat hurufnya, dan bacaan tajwidnya. Semua itu merupakan hak dari setiap huruf yang kita baca, dimana setiap hurufnya membawa 10 kebaikan bagi pembacanya. Dalam hal adab  membaca Al-Qur’an, terkadang kita sering meninggalkannya meskipun kita tahu adab yang benar. Kaki yang njigang atau tidak menghadap kiblat ketika membaca Al-Qur’an ,merupakan tanda kita tidak mengamalkan ilmu yang kita miliki. Hal-hal yang sering dianggap sepele tetapi penting inilah yang terkadang membuat kita susah “lanyah” dalam mengaji.

Mengaji itu adalah nama lain dari mencari ilmu, dan mengamalkan ilmu yang sudah didapatkan itu hukumnya wajib. Pengamalan ilmu itu harus seterusnya, tidak bisa jika hanya di depan guru saja. Nderes atau memuroja’ah hafalan hanya ketika akan mau diajukan kepada guru merupakan sesuatu yang tidak benar. Al-Qur’an adalah kontrak santri penghafal Al-Qur’an seumur hidup, tidak bisa seenaknya sendiri dan harus bertanggung jawab karena sudah terlanjur nyemplung (berkecimpumh-jawa).

Sabda Rasulullah SAW “Bersungguh-sungguhlah kamu dalam belajar Al-Qur’an. Karena Demi Tuhan yang jiwa Muhammad berada dalam kuasa-Nya, Al-Qur’an lebih mudah terlepas dari hati manusia daripada unta yang terlepas dari tali kekangnya”. Al-Qur’annya mudah terlepas dari ingatan, dan manusianya pelupa sangat susah untuk diketemukan. Maka dari itu, nderes itu wajib karena nderes adalah ikhtiar dari manusia yang pelupa, untuk mengekang Al-Qur’an yang mudah terlupa.

Simbah Kyai Sallam Kajen, mempunyai metode yang unik dalam mengasah deresan hafalan Al-Qur’annya. Setiap pasaran (lima hari sekali) beliau pergi ke pasar, berkeliling memutari pasar sambil menderes hafalan Al-Qur’annya sampai khatam.

Semua belajar bisa dilatih sedikit demi sedikit. Meskipun tidak di dalam pondok, saat liburan harus tetap ada waktu khusus untuk nderes. Jika tidak bisa setiap saat, maka bisa menyempatkan waktu yang tidak bisa diganggu sama sekali untuk nderes. Dari 24 jam yang kita miliki harus ada waktu khusus untuk Al-Qur’an. Dalam nderes, santri diusahakan untuk mulazamah dan konsisten. Sehingga apabila ada 1 hari yang tertinggal maka harus menggenapi di hari yang lain.

Allah sudah memerintahkan “Bacalah Al-Qur’an dengan tartil, dan tajwidilah Al-Qur’an dengan hukum tajwid”. Perintah ini kita usahakan untuk dita’ati sebagai kefardhuan bagi penghafal Al-Qur’an.

Dalam berta’abud kepada Allah kita usahakan Melakukan perintahnya dan menjauhi larangan-Nya. Dalam menjalankan perintah jangan hanya melakukan perkara wajib saja. Jangan sampai perkara fardhu kita lakukan tapi kesunnahan kita tinggalkan sama sekali. Dalam menjauhi larangan Allah jangan hanya perkara haram yang ditinggalkan, perkara makruh sebisa mungkin kita hindari. Kita semua mejalani hidup itu diawasi oleh CCTV Abadi, yakni Allah SWT. Maka harus terus berhati-hati. Perkara makruh yang dilazimkan akan menjadikan kecenderungan kepada perkara yang haram. Dan apabila sudah melakukan bahkan menjadi terbiasa dengan perkara yang haram, maka hati akan menjadi gelap sehingga hati menjadi susah menerima apapun termasuk ilmu.

Perkara haram yang dilakukan akan membentuk noda di dalam hati dan titik noda itu bisa dihapus dengan bertaubat. Maka dari itu kita harus senantiasa untuk menghindari larangan Allah dan terus senantiasa bertaubat karena kita adalah tempatnya kesalahan. Allah memberi kita gangguan berupa setan dan gangguan dari diri kita sendiri berupa nafsu. Pengendalian diri sangat penting untuk melawan gangguan tersebut karena Nabi bersabda, “Paling besar-besarnya musuhmu, adalah nafsu yang kamu bawa diantara 2 lambungmu”                                                                                                                     

*Dinukil dari Mauidzhoh Hasanah  Abuya KHM. Ulinnuha Arwani dalam acara muwadda’ah pra liburan dan peringatan Nuzulul Qur’an Podok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an Putra-Putri pada 17 Romadhon 1442 H./ 28 April 2021 M.

Bagikan artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.