Bedah Tesis Mahasiswa Al Azhar tentang Kitab Faidh al-Barakat fi Sab’ al-Qiraat karya KH M Arwani Amin Said

Mudir dan Wakil Mudir Ma’had Aly Yanbu’ul Qur’an bersam Dr. M. Agus Salim

saat saya mengajukan judul tesis tentang kitab Faidh al Barakat fi Sab’ al Qiraat ini, dosen-dosen di Al Azhar sangat antusias, dan langsung menerima judul saya, padahal pengajuan judul tesis di Al Azhar terkenal sangat sulit. Saya yakin dan merasakan betul bahwa Kitab Faidh al-Barakat ini penuh berkah.

Ma’had Aly Yanbu’ul Qur’an Kudus membuka perkuliahan semester genap tahun akademik 1444-1445 H dengan kegiatan Stadium General atau Muhadharah ‘Ammah. Pada Studium General kali ini, sebuah tesis mahasiswa al Azhar Mesir yang mengkaji kitab Faidh al-Barakat fi Sab’ al-Qiraat karya Simbah KH M. Arwani Amin Sa’id dikaji dan didiskusikan. Tesis tersebut ditulis oleh Doktor alumnus al Azhar, yang juga merupakan alumnus Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an sekaligus Dosen Kehormatan Ma’had Aly Yanbu’ul Qur’an Kudus, yaitu Dr. KH Agus Salim, dengan judul:

“فيض البركات في سبع القراءات للشّيخ محمّد أرواني أمين سعيد الإندونيسيّ (1323-1415 ه) من بداية الكتاب إلى نهاية سورة الأنعام: دراسة وتحقيقا”

Tesis Dr. Agus Salim ini mengkaji Kitab Faidh al-Barakat fi Sab’ al-Qiraat karya Mbah Kiai Arwani dari sisi kebahasaan (Lughawiyyah), meliputi: kajian tentang fonologis (al-ashwat), morfologis (ash-sharf), sintaksis (an-nahw) dan semantik (ad-dilalah). Teks kitab Faidh al-Barakat yang dikaji oleh Dr. Agus Salim dalam tesisnya merupakan dua teks kitab tulisan tangan dari KH M. Arwani Amin dan KH M. Manshur Maskan.

Bedah Tesis yang mengkaji Kitab Faidh al-Barakat karya Mbah Arwani ini penting bagi Ma’had Aly Yanbu’ul Qur’an Kudus, antara lain karena: Pertama, Ma’had Aly Yanbu’ul Qur’an Kudus memiliki Jurusan Ilmu Al Qur’an yang berkonsentrasi pada Ilmu Qiraat, sesuai dengan kandungan isi daripada Kitab Faidh al-Barakat fi Sab’ al-Qiraat. Kedua, Faidh al-Barakat merupakan salah satu rujukan turats penting (al-Maraji’ al-Asasiyyah) dalam pelaksanaan perkuliahan di Ma’had Aly Yanbu’ul Qur’an, sehingga pengetahuan, kajian dan penelitian mengenai kitab ini juga penting adanya bagi Ma’had Aly Yanbu’ul Qur’an. Ketiga, memberikan motivasi kepada para mahasantri agar semangat dalam melakukan kajian, riset dan penelitian dalam ilmu-ilmu al Qur’an khususnya dalam Ilmu Qiraat.    

Selain dinarasumberi oleh penulis Tesis yaitu Dr. KH Agus Salim, acara Stadium General ini juga diisi oleh beberapa narasumber sebagai pembanding, yaitu: Agus H. Ahmad Nashih S.Ag Mudir Ma’had Aly Yanbu’ul Qur’an, Agus H. Riqza Ahmad MA Wakil Mudir Ma’had Aly Yanbu’ul Qur’an sekaligus pentahqiq Kitab Faidh al-Barakat fi Sab’ al-Qiraat yang diterbitkan oleh Penerbit Mubarokatan Thoyyibah Kudus, dan Ustadz H. Nizanul Falih MA sebagai Dosen Matakuliah Ilmu-ilmu Qiraat. 

Di sela-sela Stadium General, Dr. Agus Salim menyampaikan kesannya terhadap Kitab Faidh al-Barakat fi Sab’ al-Qiraat karya Mbah Arwani. “Setelah saya teliti secara serius, saya mencapai kesimpulan bahwa Mbah Arwani itu adalah ulama pertama di dunia yang menulis kitab tentang Jam’ul Qiraat Sab’ah mulai Surat Al Fatihah sampai Surat An Nas secara lengkap. Bahkan, saat saya mengajukan judul tesis tentang kitab Faidh al Barakat fi Sab’ al Qiraat ini, dosen-dosen di Al Azhar sangat antusias, dan langsung menerima judul saya, padahal pengajuan judul tesis di Al Azhar terkenal sangat sulit. Saya yakin dan merasakan betul bahwa Kitab Faidh al-Barakat ini penuh berkah. Setelah saya selesai menulis tesis, setidaknya ada tiga mahasiswa Al Azhar yang melanjutkan riset saya tentang Kitab Faidh al-Barakat karya Mbah Arwani. Satu dari Indonesia dan dua dari Mesir.”

Beliau juga memberikan apresiasi atas berdirinya Ma’had Aly Yanbu’ul Qur’an yang memiliki konsentrasi di bidang Ilmu Al Qur’an khususnya Ilmu Qiraat. Menurut beliau, sangat layak bagi para mahasantri Ma’had Aly Yanbu’ul Qur’an yang seluruhnya merupakan penghafal al Qur’an, untuk mengkaji Ilmu Qiraat baik secara teori (nadhariyyah) maupun praktik (tathbiqiyyah). Beliau juga menyampaikan pentingnya mengaji secara Musyafahah, serta meyakini bahwa apa yang telah diajarkan dalam Musyafahah al Qur’an secara riwayat turun temurun dari para Kiai di Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an ini semuanya adalah benar dan memiliki sumber yang kuat.

“Keilmuan yang didapatkan di Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an ini bagi saya merupakan keilmuan yang sangat inti. Apalagi, sekarang sudah ada Ma’had Aly yang desain kurikulumnya sama persis dengan jurusan Qiraat di Al Azhar Mesir. Dan Ma’had Aly Yanbu’ul Qur’an ini merupakan satu-satunya perguruan tinggi di dunia yang mensyaratkan hafal al Qur’an bagi para calon mahasiswanya. Jadi panjenengan semua harus bersyukur termasuk dalam bagian santri Yanbu’ul Qur’an. Keilmuannya, sanadnya, sumbernya jelas.” Ucap beliau kepada para mahasantri Ma’had Aly Yanbu’ul Qur’an.

(Reportase: Sahal Mahfudh)

Bagikan artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *