Dakwah Digital : Kontekstualisasi Dakwah Walisongo

Ilustrasi (foto Shutterstock)

Pembaharuan atau tajdid merupakan sebuah istilah yang kaprah digunakan sebagai upaya penyesuaian nilai-nilai ajaran Islam terhadap perkembangan dunia akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Seiring dengan berkembangnya waktu,  apalagi di masa pandemi sekarang ini, banyak di jumpai pengajian-pengajian yang digelar secara virtual. Bagi para pegiat dakwah, media sosial menjadi celah untuk melangsungkan dakwahnya, semisal dengan membuat konten-konten dakwah di Youtube, atau membentuk grup-grup kajian online via WhatsApp, Telegram, Zoom Meeting, dsb. Bagi para perindu ilmu, hal tersebut menjadi kabar gembira. Dahaganya pada keilmuan bisa terobati dengan mengakses konten-konten dakwah secara virtual di sosial media.

Tapi sayang, tak jarang, pelopor kajian online semacam itu, sanad keilmuannya masih diragukan. Sedangkan para awam ―dengan minimnya pengetahuan―tak bisa selektif dalam mengakses kajian online. Bisa dikatakan, sebagian mereka hanya memperhitungkan minat pasaran. Seolah mereka hanya mengejar popularitas tanpa memperhatikan kedalaman ilmu dan etika yang dimiliki, serta fokus pada apa yang ingin disampaikan, apa yang mereka tahu, Akibatnya, penyampaian materi dakwah yang dilontarkan seakan bias solusi.

Dalam hal ini, orang-orang pesantren yang tentu mempunyai sumber keilmuan yang jelas. harus menjadi bagian penting di dalam gerakan dakwah digital, karena setiap hari masyarakat kita menyerap ribuan informasi dari berbagai platform media, maka kita harus menyadari  akan pentingnya teknologi dan media informasi dengan segala keanekaragamannya,   seperti: TV, radio, Facebook, telegram, Youtube, dll untuk berdakwah.  Sebagaimana walisongo yang menjadikan  wayang, gamelan, dan sebagainya sebagai sarana dakwah saat itu, maka kontekstulisasi dakwah walisongo hari ini adalah dakwah melalui media digital baik melalui tulisan, podcast, digitalisasi hasil bahsul masail, kajian fiqih, murottal digital, dan lain sebagainya.

Maka sebagai santri, di era digital seperti ini tak perlu lagi menahan diri untuk berdakwah melalui sosial media. Sudah seharusnya kita menyadari bahwa dakwah dan kecanggihan teknologi perlu berjalan beriringan. Dengan begitu, kebaikan akan terus meluas dan bertambah. Bila kita saklek menahan diri dari berdakwah via sosial media, apakah bisa menjamin sakralnya keberkahan akan tetap terjaga? Bukankah keberkahan sendiri memiliki arti kebaikan yang tak dapat dikalkulasikan? Mari menjadi santri yang sesungguhnya,santri yang berdedikasi tinggi sekaligus memahami zamannya, sehingga ia menjadi fleksibel dalam menyesuaikan diri dengan zaman yang sedang dihadapi. Sebagaima maqolah menyatakan “Al-‘alim huwa al-‘arif bizamanihi”.

Ditulis oleh : santri Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an Putri

Bagikan artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.