Merasa Manis Saat Membaca Al-Qur`an

Al-Qur’an Al-Quddus, al-Qur’an yang diterbitkan Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an (doc. PT Buya Barokah Ofset)

Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam. Membaca dan memelajarinya bernilai ibadah. Rasulullah menjelaskan orang yang paling bagus adalah yang mau belajar dan mengajarkan al-Qur’an. Orang yang membaca al-Qur’an dirinya akan merasa tenang. Ia mendapat pahala dan kemuliaan dari Allah ta’ala.

Rasulullah pula menggambarkan seorang yang mahir membaca al-Qur’an, ia bersama malaikat – malaikat mulia. Sedangkan orang yang harus susah payah untuk bisa membaca al-Qur’an, ia dapat dua pahala. Pahala atas bacaan qur’annya dan pahala susah payahnya membaca al-Qur’an.

Ada suatu kisah, al-Habib Muhammad Jamalullail, salah satu ulama di kota Tarim-Hadlramaut. Beliau terkenal dengan seorang yang rajin membaca al-Qur’an. Siang-malamnya beliau gunakan untuk membaca dan mengajar al-Qur’an. Namun tatkala masuk bulan Ramadan, beliau enggan membaca al-Qur’an di siang harinya. Singkat cerita masyarakat heran, “ya Habib ! ini adalah bulan Ramadan, bulan diturunkannya al-Qur’an, bulan untuk membaca al-Qur’an. Kenapa sebelum Ramadan datang engkau rajin membaca al-Qur’an, tapi setelah Ramadan tiba malah engkau tidak mau membaca al-Qur’an?” Mendengar pertanyaan itu, beliau hanya tersenyum lalu menjawab, “Aku kalau membaca al-Qur’an, di mulutku merasakan manis seperti manisnya madu. Jadi selama waktu siang Ramadan aku tidak baca al-Qur’an, khawatir puasaku batal sebab rasa manis di mulutku ketika membacanya”.

Rasululllah shalallahu `alaihi wasallam menjanjikan sepuluh kali lipat pahala pada setiap huruf al-Qur’an yang dibaca. Pahala yang akan berikan Allah ini, sangat bermanfaat bagi kita baik di dunia maupun di akhirat. Maka bagus manakala kita bisa mengatur waktu dan aktifitas kita. Kita sediakan waktu khusus untuk membaca al-Qur’an. Habib Salim asy-Syatiri mengatakan, dengan membaca al-Qur’an tidak membuat waktu kita berkurang. Justru dengan membaca al-Qur’an waktu – waktu kita akan berkah. Sehingga aktifitas kita menjadi mudah dan kita semangat mengerjakannya. Kita juga bisa mempergunakan gadget / HP sebagai media baca al-Qur’an.

Di sela-sela antrean menunggu, atau saat dalam kendaraan mobil/ bus kita bisa memanfaatkan waktu tersebut untuk membaca al-Qur’an. Pengalaman sedikit di kota Tarim, para penjual di pasar kota tersebut mereka pergi berdagang ke pasar sambil membawa al-Qur’an dan kitab shalawat “Dalailul khairat”. Ketika ada pembeli, mereka layani pembeli itu. Dan ketika belum ada yang datang di toko mereka membaca al-Qur’an dan shalawat pada Nabi. Imam al-Ghazali pernah mengatakan, setiap nafas kita bisa bernilai berlian bergharga ketika kita memanfaatkannya untuk mendekat kepada Allah.

Selain membaca, kita berusaha untuk mengamalkan al-Qur’an. Rasulullah menjelaskan bahwa orang yang membaca al-Qur’an dan mengamalkannya, kedua orang tuanya akan diberi Allah sebuah mahkota yang bercahaya indah, melebihi indahnya cahaya matahari. Di antara yang bisa kita amalkan dari al-Qur’an adalah dengan kita menjaga lisan kita. Menjaga dari berbohong, berkata kotor, dan membicarakan aib orang lain. Membaca al-Qur’an besar pahalanya. Berbohong dan menggunjing juga besar dosanya.

Sayang tatkala kemuliaan yang kita peroleh sebab membaca al-Qu’ran sirna karena bicara bohong atau membicarakan aib orang lain. Berusaha menjaga lisan, tangan dan anggota tubuh kita akan mempermudah kita untuk mendapat ridla-Nya.

Semoga al-Qur’an bisa hadir di siang-malam hari kita dengan membacanya, dan kita bisa dikumpulakan Kembali bersama al-Qur’an.

Ditulis oleh :
Ahmad Mahalli, Lc. (Ustadz MUS-YQ Kwanaran)

Bagikan artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.